Tampilkan postingan dengan label Adab Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab Islam. Tampilkan semua postingan

Adab Silaturahim

Posted by Moeclazh Favian Rabu, 01 Januari 2014 0 komentar
SILATURAHIM merupakan amalan yang dianjurkan oleh islam. Rasulullah mengungkapkan bahwa orang yang gemar bersilaturahim akan diluaskan rezeki dan dipanjangkan usianya. Beliau bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah menyambung tali silaturahim...” (Riwayat Bukhari). Berikut beberapa adab yang perlu diperhatikan agar silaturahim memberi manfaat dunia dan akhirat.
·           Niat ikhlas, Seseorang yang melakukan silaturahim hendaknya diniatkan untuk mencari ridha Allah semata. Allah berfirman, “Padahal tidak ada seseorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (Dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.” (Al-Lail [92]: 19-20).

·   Memulai dari keluarga yang terdekat. Silaturahim dianjurkan dimulai dari keluarga terdekat yang ada hubungan darah. Rasulullah telah mewanti-wanti orang yang suka memutus hubungan keluarga. Beliau memberi kabar akan bahaya memutus keluarga. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya rahmat itu tidak diturunkan kepada kaum yang di dalamnya ada seseorang pemutus keluarga.” (Riwayat Bukhari). Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda, “Tidak masuk surga orang yang memutus keluarga.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

·         Menyambung hubungan dengan orang yang memutusnya. Rasulullah menganjurkan agar seorang Muslim tetap berupaya menyambung tali silaturahim dengan karib kerabatnya, walaupun mereka selalu berupaya memutusnya. Orang yang berusaha melakukan ini akan mendapat pertolongan dari Allah. Seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, saya mempunyai kerabat yang selalu saya menghubungi mereka tetapi mereka memutuskan saya, saya selalu berbuat kebaikan kepada mereka tetapi mereka berbuat jelek kepada saya, saya selalu sabar (santun) terhadap mereka tetapi mereka selalu berbuat bodoh terhadap saya. Maka beliau bersabda, “Jika kamu benar seperti yang telah kamu katakan, maka seolah-olah kamu memberi makan mereka abu yang panas, dan penolong dari Allah atas mereka selalu menyertaimu selama kamu seperti itu.” (Riwayat Muslim).

·  Membawa sedekah saat silaturahim. Sedekah merupakan pintu silaturahim dan persaudaraan. Rasulullah menganjurkan agar memberi sedekah kepada yang lain, termasuk orang yang membenci kita. Sahabat ‘Uqbah bin Amir pun mengungkapkan bahwa Rasulullah pernah menasehati dirinya sebagai berikut. “Wahai ‘Uqbah, maukah engkau kuberitahukan tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama, yaitu menghubungi orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberi orang yang pernah menahan pemberiannya kepadamu, dan memaafkan orang-orang yang pernah menganiayamu.” (Riwayat Hakim). Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda, “Sebaik-baiknya sedekah adalah sedekah yang diberikan kepada karib kerabat yang benci.” (Riwayat Al-Hakim).

·          Orang yang lebih muda sebaiknya mendatangi yang lebih tua, begitu juga seorang Muslim mendatangi yang lebih alim dan bertakwa.

Baca Selengkapnya ....

Adab Ketika Sakit

Posted by Moeclazh Favian Senin, 02 Desember 2013 2 komentar

Setiap orang yang hidup tentu pernah merasakan sakit. Seorang Muslim harus yakin bahwa kondisi tersebut merupakan ujian dari Allah. Berkaitan dengan hal ini, Islam memberikan tuntunan kepada orang sakit agar menjaga adab. Diantaranya adalah:
·          Sabar dan ikhlas. Orang yang sakit hendaknya yakin bahwa apa yang menimpanya merupakan ujian dan cobaan dari Allah. Allah berfirman, “Dia yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Al-Mulk [67]: 2). Jika orang yang sakit yakin ia sedang mendapat ujian dari Allah, maka ia tidak akan marah dan murka terhadap takdir yang menimpa dirinya.

·           Berobat. Dalam sebuah Hadits Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah kalian, dan janganlah berobat dengan sesuatu yang haram.” (Riwayat Ad-Daulabi).

·           Berobat kepada ahlinya. Hendaknya orang yang sakit datang kepada ahlinya. Dalam sebuah Hadits Rasulullah bersabda, “Tidaklah Allah menurunkan satu penyakit pun melainkan Allah turunkan pula obat baginya. Telah mengetahui orang-orang yang tahu, dan orang yang tidak tahu tidak akan mengetahuinya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim). Mereka yang termasuk dalam kategori ahli pengobatan yaitu dokter atau orang yang memiliki keahlian dalam hal ramuan, refleksi, akupuntur, dan sebagainya.

Adapun berobat kepada tukang sihir atau dukun, atau dengan cara perdukunan yang mengandung unsur syirik, hukumnya haram. Dari Mu’awiyah ibnul Hakam, dia berkata, “Aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku baru saja meninggalkan masa Jahiliah. Dan sungguh Allah telah mendatangkan Islam. Di antara kami ada orang-orang yang mendatangi para dukun.” Rasulullah bersabda, “Janganlah engkau mendatangi mereka (para dukun).” (Riwayat Muslim).

·           Bila sakitnya bertambah parah, tidak boleh mengharap kematian. Dari Anas dia berkata, “Rasulullah bersabda, “Janganlah salah seorang kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Baca Selengkapnya ....

Adab Memperlakukan Rumah

Posted by Moeclazh Favian Sabtu, 16 November 2013 0 komentar

Rumah adalah tempat berkumpul anggota keluarga. Berkaitan dengan rumah, Rasulullah SAW telah mencotohkan dan memberikan tuntunan bagaimana seharusnya memperlakukan dan beraktivitas di dalamnya.
1.        Bersyukur Memiliki Rumah
Rumah dalam Islam merupakan sebuah karunia dan kehormatan, karena itulah orang yang memiliki rumah harus banyak bersyukur. Allah berfirman: “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Waktu bagi manusia dan (bagi ibadah haji); Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kewajiban orang-orang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (Al-Baqarah [2]: 189).

2.        Berdoa Saat Keluar Rumah
Dianjurkan membaca doa sebelum keluar rumah: “Dengan menyebut nama Allah, aku berserah diri kepada Allah dan tiada daya dan upaya kecuali seizin Allah”. (Riwayat Tirmidzi).

3.        Berdoa Saat Masuk Rumah
Dianjurkan berdoa saat masuk rumah: “Dengan menyebut nama Allah kami memasuki rumah, dengan menyebut nama Allah kami keluar dan kepada Allah kami berserah diri.” (Riwayat Tirmidzi). Dilanjutkan dengan menucapkan salam.

4.        Tidak Bermegah-megahan dalam Membangun Rumah
Rasulullah SAW bersabda, “Hari kiamat tidak akan terjadi sampai manusia bermegah-megahan dalam membangun.” (Riwayat Bukhari). Tapi dianjurkan membangun rumah yang luas, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Kebahagiaan seseorang pada rumah yang luas, tetangga yang sholeh, dan kendaraan yang menyenangkan.” (Riwayat Akhmad).

5.        Sering Dipakai Shalat Sunnah dan Membaca Al-Qur’an
Rasulullah SAW bersabda, “Jadikanlah sebagian dari shalat kamu (shalat sunnah) di rumahmu dan janganlah menjadikannya sebagai kuburan.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

6.        Tidak Memasukkan dan Memelihara Anjing di Rumah
Hal ini karena dalam banyak Hadits disebutkan, malaikat tidak memasuki rumah yang ada anjingnya. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang memelihara anjing selain anjing penjaga sawah, anjing penjaga kambing, atau anjing pemburu, maka pahalanya akan dikurangi setiap harinya sebanyak dua Qirath (seukuran gunung Uhud).” (Riwayat Bukhari).

7.        Mematikan Lampu dan Tidak Membiarkan Api Menyala
Rasulullah SAW bersabda, “Tutuplah pintu, baringkanlah botol tempat minumanmu, baliklah bejanamu, padamkanlah lampu, sesungguhnya setan tidak membuka yang tertutup, tidak menempati tempat minum (yang dibaringkan), dan tidak pula membuka bejana (yang dibalik). Sesungguhnya binatang kecil yang nakal (tikus) bisa menyebabkan kebakaran pada rumah seseorang.” (Riwayat Abu Daud). Demikian pula beliau mengingatkan, “Sesungguhnya api ini adalah musuh bagimu, maka jika kalian tidur padamkanlah api tersebut dari rumahmu.” (Riwayat Tirmidzi).

Baca Selengkapnya ....

Adab Memelihara Binatang

Posted by Moeclazh Favian Rabu, 13 November 2013 0 komentar

1.        MEMBERI MAKAN DAN MINUM
Memberi makan dan minum hewan peliharaan merupakan tanggung jawab pemiliknya. Orang yang memberi makan hewan mendapat pahala yang besar. Dari Abu Hurairah ia berkata, “ Rasulullah bercerita, pada suatu ketika ada seekor anjing mengelilingi sebuah sumur, anjing itu hampir mati kehausan. Tiba-tiba dia terlihat oleh seorang wanita pelacur bangsa Bani Israil. Maka dibukanya sepatu botnya, kemudian diciduknya air dengan sepatunya, lalu diberinya minum anjing yang hampir mati itu. Maka Allah mengampuni segala dosa wanita itu (dengan asbab amalnya memberi minum anjing itu).” (Riwayat Muslim).

2.        MENYAYANGI DAN MENGASIHINYA
Islam memerintahkan untuk menyayangi siapa saja termasuk hewan. Rasulullah bersabda, “Siapa tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

3.        TIDAK MENYIKSA
Ketika Rasulullah melihat orang-orang menjadikan burung sebagai sasaran anak panah, beliau bersabda, “Allah melaknat siapa saja yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran”. (Riwayat Abu Daud dengan Sanad Shahih). Suatu ketika Ibnu Umar melihat sekelompok orang melempar seekor ayam yang sengaja diikat, lalu dia berkata, “Barangsiapa yang melakukan perkara ini (menyiksa binatang), sesungguhnya Rasulullah melaknat siapa melakukan perkara ini.” (Riwayat Muslim).

4.        BUKAN UNTUK MENYOMBONGKAN DIRI
Islam melarang memelihara binatang ternak dengan tujuan untuk membanggakan diri. Rasulullah bersabda, “Kuda terbagi ke dalam tiga jenis, seseorang mendapatkan pahala (karenanya), seseorang mendapat pakaian (karenanya), dan seseorang mendapat dosa (karenanya). Adapun orang yang mendapatkan pahala karena kuda ialah orang yang mengikatnya di jalan Allah dan memperpanjang talinya di tanah lapang atau padang rumput. Maka apa saja yang terjadi pada kuda tersebut di tanah lapang atau padang rumput, maka orang tersebut mendapat kebaikan. Jika orang tersebut memotong talinya, kemudian kuda tersebut berjalan cepat satu langkah, atau dua langkah, maka jejak-jejaknya dan kotoran-kotorannya adalah kebaikan-kebaikan baginya.

Orang satunya mengikatnya karena ingin memperkaya diri namun ia tidak lupa hak Allah di leher, dan tulang punggung kudanya, maka kuda tersebut adalah pakaian untuknya. Sedang orang satunya mengikatnya untuk sombong, riya, dan permusuhan, maka kuda tersebut adalah dosa baginya.” (Riwayat Bukhari).

5.        MENUNAIKAN ZAKAT JIKA CUKUP NISABNYA
Dari Abu Dzar, ia berkata “Apabila seseorang memiliki unta, sapi (lembu) atau kambing (termasuk biri-biri), (lalu) tidak menunaikan haknya (zakat), maka pada hari kiamat nanti ia (akan datang kepada tuannya dengan) kelihatan lebih besar dan gemuk  daripada dirinya yang biasa. Ternaknya itu akan menginjak-injaknya dengan tapak kaki mereka dan menanduknya dengan tanduk-tanduknya. Setelah selesai gerombolan ternak terakhir menginjaknya, maka (gerombolan ternakan) yang pertama akan mengulanginya pula. Itulah hukuman yang (bakal) dia peroleh. (Riwayat Bukhari).

Baca Selengkapnya ....

Adab Menyambut Kelahiran Anak

Posted by Moeclazh Favian Rabu, 06 November 2013 2 komentar

Kehadiran anak merupakan dambaan bagi setiap orang tua. Bahkan bagi sebagian besar orang hidup belum terasa lengkap bila belum hadir anak-anak di tengah mereka. Anak sebagai karunia Ilahi sangat besar artinya. Namun demikian, Allah SWT mengingatkan kita agar senantiasa berhati-hati dengan kehadiran mereka, sehingga tidak menimbulkan fitnah bagi keluarga maupun agama.

Dalam kaitan ini Al-Qur’an menjelaskan, mereka yang dikaruniai banyak anak janganlah terlena. Begitupun yang belum, tidak bersikap putus asa. Semua hendaknya dijalani sekaligus disikapi sebagai kondisi terbaik yang Allah berikan kepada hamba-hambanya. Ditegaskan dalam Al-Qur’anul Karim “Dan ketahuilah, hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan” (QS. Al-Anfaal:28).

Lebih lanjut dikatakan bahwa harta dan anak-anak bukan menjadi sebab seseorang bertambah dekat kepada Allah, “Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada kami sedikitpun”. (QS. Saba’:37). Bagaimana mensyukuri kehadiran anak agar Allah SWT memberi berkah atas kehadirannya, berikut adabnya:

1.   Disunnahkan mengumandangkan adzan pada telinga bayi sebelah kanan ketika baru lahir. Dan iqamat pada telinga kirinya. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud).

2.      Setiap kelahiran anak dusunnahkan agar disertai aqiqah, yaitu penyembelihan kambing. (HR. Bukhari). Aqiqah bagi anak laki-laki yaitu dua ekor kambing yang telah cukup umur, dan bagi anak perempuan satu ekor kambing. (HR. Tirmidzi dan Nasa’i).

3.    Pada hari aqiqah disunnahkan untuk menyuapkan kurma yang telah dikunyah hingga halus kepada bayi, lalu memohonkan berkah (kepada Allah) untuk bayi tersebut. (HR. Muslim).

4.    Disunnahkan mencukur rambut bayi pada hari ketujuh, sekaligus memberikan nama yang baik bagi si bayi. (HR. Abu Dawud, Nasa’i dan Tirmidzi).

5.   Setelah mencukur rambut si bayi hendaknya bersedekah, seberat rambut tersebut dengan harga perak. (HR. Tirmidzi).

Baca Selengkapnya ....

Adab Menerima Tamu

Posted by Moeclazh Favian Sabtu, 02 November 2013 4 komentar

Setiap orang tentu pernah kedatangan tamu, baik karena hubungan famili, persahabatan ataupun berkujung semata-mata ada suatu urusan. Berkaitan dengan hal ini, Islam telah memberikan tuntunan. Berikut rinciannya:

·     Mengucapkan selamat datang kepada tamu
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA tatkala utusan Abi Qais datang kepada Rasulullah beliau bersabda, “selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal”. (Riwayat Bukhari).

·     Menjawab salam
Jika seorang tamu mengucapkan salam di depan pintu, hendaknya tuan rumah menjawabnya. Menjawab salam sesama muslim berarti menunaikan hak sesama muslim. Dari Abu Hurairah berkata “Saya mendengar Rasulullah bersabda “Hak orang muslim terhadap muslim lainnya ada lima, yaitu menjawab salam....”. Adapun apabila ahli kitab yang mengucapkan salam, maka jawabannya cukup hanya dengan ucapan “alaik” atau “alaikum” saja. (Riwayat Bukhari).

·     Berjabat tangan
Bila kedatangan tamu, hendaknya tuan rumah menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Dari Salman Al-Farisyi, Rasulullah bersabda “Sesungguhnya seorang muslim apabila bertemu dengan saudaranya sesama muslim kemudian keduanya berjabat tangan, maka akan gugurlah dosa-dosa keduanya sebagaimana bergugurnya daun-daun kering di hari angin bertiup kencang, ataupun jika tidak, maka dosa-dosa keduanya akan diampuni walaupun seumpama sebanyak buih di lautan”. (Riwayat Turmudzi, Abu Daud dan Ibnu Majah).

Tetapi bila tamunya lain jenis dan bukan mahramnya, dilarang berjabat tangan karena Rasulullah tidak pernah berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahramnya. Aisyah berkata, “Rasulullah tidaklah pernah menyentuh wanita sama sekali sebagaimana yang Allah perintahkan. Tangan beliau tidak pernah menyentuh tangan mereka. Ketika baiat, beliau hanya membaiat melalui ucapan dengan berkata, “Aku telah membaiat kalian”. (Riwayat Muslim).

Bahkan dosa orang yang berjabat tangan atau menyentuh wanita yang bukan mahramnya lebih pedih daripada ditusuk kepalanya dengan jarum besi. “Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya”. (Riwayat Thabrani).

·     Menyambut tamu dengan gembira
Tuan rumah hendaknya menyambut tamunya dengan penuh gembira dan wajah berseri-seri. Jika dia sedang punya masalah, hendaknya tidak dinampakkan kepada tamu. Jika kekesalan itu tertuju kepada tamunya, hendaknya diusahakan tetap bisa bersikap ramah.

·     Mempersilahkan tamu seperti di rumah sendiri
Tuan rumah hendaknya memperlakukan tamu seperti saudara sendiri sehingga tidak layak jika membiarkaan tamu seperti orang asing.

·    Segera menyuguhkan hidangan agar tamu segera merasakan sikap ramah dari tuan rumah
Hal itu dijelaskan dalam Al-Qur’an ketika Nabi Ibrahim AS menyuguhkan hidangan kepada tamunya. “Kemudian Ibrahim mendekatkan hidangan tersebut pada mereka”. (Adz-Dzariat [51]:27).

Baca Selengkapnya ....

Adab Bercanda

Posted by Moeclazh Favian Senin, 28 Oktober 2013 6 komentar
Bercanda atau bersenda gurau dalam kehidupan sehari-hari, ibarat garam yang dibubuhkan ke dalam sayuran. Jika takarannya pas, tentu sayur menjadi enak untuk dinikmati. Sebaliknya, canda yang berlebihan justru bisa merubah rasa dari yang semula enak menjadi tidak enak. Meski hanya sekadar “bumbu”, Islam punya aturan berkaitan dengan senda gurau. Jika tidak, alih-alih mendapatkan pahala, justru canda bisa berubah jadi petaka. Dalam banyak riwayat, diterangkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sering mencandai istri-istri dan para sahabat. Nah, bagaimana canda ala Rasulullah, ada beberapa adab yang perlu diperhatikan dalam hal ini:

·      Berkata Jujur
Jika diamati, tak satu pun canda Rasulullah yang disisipi kebohongan. Semua senda gurau beliau tidak lain adalah kebenaran. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, para sahabat pernah berkata, “Ya Rasulullah, engkau mencandai kami”. Rasulullah kemudian menegaskan, “Ya, hanya saja aku tidak pernah berkata kecuali dengan perkataan yang benar”.

·     Tidak Berdusta
Dalam senda gurau, seringkali seseorang terpancing untuk mengarang-ngarang cerita atau menyebarkan cerita-cerita yang tersebar dari mulut ke mulut. Hal ini jelas dilarang dalam ajaran Islam. Sabda Rasulullah, “Celakalah orang yang bercerita lalu berbohong untuk membuat orang-orang tertawa, celakalah dia, celakalah dia”. (Riwayat At-Tirmidzi).

·     Tidak Mengolok-olok Orang Lain
Firman Allah, “Hai orang-orang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok)”. (Al-Hujurat:11).

·     Tidak Menyakiti Orang Lain
Dari Abdurrahman bin Abi Layla Radhiyallahu ‘anhu, “Para sahabat pernah melakukan perjalanan malam bersama Nabi. Lalu salah seorang di antara mereka ketiduran, maka sebagian dari mereka mendekatinya untuk mengambil tali milik lelaki tersebut sehingga ia terkejut dan terbangun. Melihat hal itu, tidak halal bagi seorang Muslim mengagetkan atau menakut-nakuti saudara Muslim lainnya”. (Riwayat Abu Dawud).

·     Tidak Tertawa Berlebihan
Semua yang berlebihan dilarang dalam agama. Terlebih bercanda, yang mudahmelalaikan seorang Muslim dari kewajibannya. Dan tidaklah Rasulullah tertawa melainkan ia tersenyum. Beliau juga menegaskan, “Dan janganlah benyak tertawa, sesungguhnya banyak tertawa itu mematikan hati”. (Riwayat At-Tirmidzi).

·      Sesuai Tempat dan Waktu
Seyogyanya bersenda gurau itu harus tepat pada waktunya. Hindarilah canda ketika orang lain membutuhkan keseriusan. Orang bijak adalah yang menempatkan sesuatu sesuai tempatnya masing-masing.

Baca Selengkapnya ....

Adab Utang Piutang

Posted by Moeclazh Favian 0 komentar


Utang piutang merupakan aktivitas yang tidak mungkin dihindari dalam kehidupan banyak orang. Islam membolehkan utang piutang, tapi dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Orang yang ingin berhutang hendaklah benar-benar karena terpaksa, sebab menurut Rasulullah utang merupakan penyebab kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari. Bahkan beliau pernah menolak menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya. Rasulullah bersabda, “akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya, kecuali utangnya”. (Riwayat Muslim).

2.    Orang yang berutang hendaknya ada niat yang kuat untuk mengembalikan. Orang yang memiliki niat seperti itu akan ditolong oleh Allah. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda “barangsiapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan tujuan untuk membayarnya (mengembalikannya), maka Allah akan tunaikan untuknya. Dan barangsiapa mengambilnya untuk menghabiskannya (tidak melunasinya), maka Allah akan membinasakannya”. (Riwayat Bukhari).

3. Harus ditulis dan dipersaksikan. Dua pihak yang melakukan transaksi utang piutang hendaknya menulis dan dipersaksikan oleh orang lain, hal ini dijelaskan dalam firman Allah surat Al-Baqarah [2] ayat 282. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini sebagai petunjuk dari Allah jika ada pihak yang bermuamalah dengan transaksi non tunai, hendaklah ditulis, agar lebih terjaga jumlah, waktu dan lebih menguatkan saksi.

4.  Pemberi utang tidak boleh mengambil keuntungan atau manfaat dari orang yang berutang, hal ini karena tujuan dari pemberi pinjaman adalah mengasihi si peminjam dan menolongnya, bukan mencari kompensasi atau keuntungan. Bahkan dianjurkan memberi penangguhan waktu kepada orang yang sedang kesulitan dalam melunasi utangnya setelah jatuh tempo. Hal ini berdasar firman Allah dalam surat Al Baqarah [2] ayat 280, serta sabda Rasulullah yang berbunyi “barangsiapa ingin dinaungi Allah dengan naungan-Nya (pada hari kiamat), maka hendaklah ia menagguhkan waktu pelunasan utang bagi orang yang sedang kesulitan, atau hendaklah ia menggugurkan utangnya”. (Riwayat Ibnu Majah).

5.  Orang yang berutang hendaknya segera melunasi utangnya jika sudah mempunyai uang dan memberikan hadiah kepada yang memberi pinjaman. Rasulullah bersabda “menunda (pembayaran) bagi orang yang mampu merupakan suatu kezaliman”. (Riwayat Bukhari).

Baca Selengkapnya ....
Berbagi Informasi | Copyright of moeclazh.blogspot.com.